Postingan

Hujan kita

Hujan kita Bagaimana dulu kita bisa yakin, bahwa hujan adalah bahasa langit yang paling puitis? Sedang terakhir kali ia menjelma gumpalan badai yang bergemuruh, lalu meninggalkan jejak-jejak basah membingkai mata kita. Hujan yang dulu didamba agar merekatkan dekap antara kita, kini hujan itu pula yang dikutuk kehadirannya. Semenjak ia hadir menggenangi ingatan dengan kisah-kisah yang tak sempat diselesaikan. Ada genggaman yang tak seharusnya dilepaskan,  juga amarah yang tak semestinya kita hunuskan.  Ketidakmampuan kita menafsirkan kehendak Tuhan akhirnya berujung sesal. Padahal kita tahu kehendak Tuhan adalah kehendak yang paling tulus. Kita terlalu lena pada rinai-rinai hujan yang berpendar angan. lupa bahwa waktu tidak pernah tinggal diam menggiring kita pada apa-apa yang kita sebut asing.

Pesan

Kau akan rindu hari ini! Ketika bahtera harapmu benar-benar tenggelam; sebab, keputusasaan menjelma samudra luas yang tak bertepi. Namun, bersama kelam samudra itu pula; dapat kau hanyutkan segala prahara. Hidup penuh omong kosong, kau yang akan mengisi kekosongannya dengan berbagai rasa. Kisahmu harus tetap tertulis. Di tiap-tiap lembarnya; ada janji yang menunggu untuk kau tepati Jangan coba-coba kau hunuskan amarah Ingat! Dujung getar bibirnya! Lirih tangisnya! Terselip doa yang rela menyalip angin. Hingga bermuara pada titik terdalam atmamu. Lalu menyembuhkan luka-lukamu. #pohonsenja Sampit, 2020

Gagal

Gagal Sengaja ku gelar duka di atas bentangan sunyi malam yang membungkam ingar bingar dunia Puisiku adalah doa yang gagal dipanjatkan Karna, diksi yang tercipta selalu tumbang, tak bersisa Setiap baitnya mati menolak hidup dalam syair yang penuh luka.. Aku hanya bisa membisu dan membusuk! Tanpa peduli harap tersapu air mata berbisik dengan nada yang kasar "andaikan takdir bisa ditawar-tawar" sambil memaksa pena menggurat sesal yang mengakar Dengan tinta, aku meminta "Tolong ampuni aku Tuhan..." #pohonsenja Semarang, 2019