Hujan kita
Hujan kita
Bagaimana dulu kita bisa yakin, bahwa hujan adalah bahasa langit yang paling puitis?
Sedang terakhir kali ia menjelma gumpalan badai yang bergemuruh, lalu meninggalkan jejak-jejak basah membingkai mata kita.
Hujan yang dulu didamba agar merekatkan dekap antara kita, kini hujan itu pula yang dikutuk kehadirannya.
Semenjak ia hadir menggenangi ingatan dengan kisah-kisah yang tak sempat diselesaikan.
Ada genggaman yang tak seharusnya dilepaskan,
juga amarah yang tak semestinya kita hunuskan.
Ketidakmampuan kita menafsirkan kehendak Tuhan akhirnya berujung sesal.
Padahal kita tahu kehendak Tuhan adalah kehendak yang paling tulus.
Kita terlalu lena pada rinai-rinai hujan yang berpendar angan.
lupa bahwa waktu tidak pernah tinggal diam menggiring kita pada apa-apa yang kita sebut asing.
Komentar
Posting Komentar